no complaint day
Senin, 28 Maret 2011
Alergi Hidup
Pengarang : Unknown
Sumber : http://kyawang.blogspot.com/
Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya : "Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati."
Sang Guru tersenyum : "Oh, kamu sakit". "Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati".
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan: "Kamu sakit. Penyakitmu itu bernama "Alergi Hidup". Ya, kamu alergi terhadap kehidupan. Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo.
Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Usaha pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita".
"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku", kata sang Guru. "Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup lebih lama lagi", pria itu menolak tawaran sang Guru.
"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati ?", tanya Guru. "Ya, memang saya sudah bosan hidup", jawab pria itu lagi. "Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini... Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisanya kau minum besok jam enam sore. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang".
Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu relaks, begitu santai! Tinggal satu malam dan satu hari ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di sebuah restoran. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia mencium istrinya dan berbisik, "Sayang, aku mencintaimu". Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.
Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali dan berkata : "Sayang, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku sayang".
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini Bos kita kok aneh ya?" Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya sambil berkata : "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu". Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan: "Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami".
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidupnya menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?
Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi dan berkata : "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan".
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP !
Sasuke dan Itachi
kau Seseorang yang sangat aku benci
Kau…
...Seseorang yang sangat aku dendami
Dan kau…
Seseorang yang telah merusak hidupku
Kau yang membunuh orang tuaku
Kau yang membunuh klanku
Dan kau juga yang telah membunuh batinku
Tak taukah kau bagaimana sakitnya perasaanku
Saat aku melihat keluargaku mati di depanku
Keluarga yang sangat aku sayangi
Keluarga yang menjadi teman hidupku
Dan ternyata… kau… saudara sedarahku
Kau lah penyebab itu semua
Kau yang telah melakukan itu
Rasa sayangku yang sangat padamu selama ini…
Kau rusak dengan perbuatanmu
Kau buat aku benci padamu
Kau buat aku ingin membunuh saudara sedarahku sendiri
Karenamu aku kehilangan sifat ceriaku
Karenamu aku terhasut oleh kebencianku
Karenamu aku terbawa ke kegelapan hatiku
Karenamu aku meninggalkan teman-temanku dan desaku
Demi mencari kekuatan baru untuk membunuhmu
Ketika aku bertemu denganmu lagi
Perasaan dendamku membara
Tetapi kau hanya bisa tersenyum tanpa rasa bersalah
Mengabaikan perasaan sakitku
Apa yang ada di pikiranmu?
Kau sama sekali tak memikirkan betapa hancurnya hidupku karenamu?
Dan sekarang, setelah aku berhasil membunuhmu
Aku baru mengetahui apa yang sebenarnya
Aku menyesal
Dulu…
Ketika aku dan kau selalu bersama
Ketika aku bermimpi buruk
Kau ada di sampingku
Menenangkan hatiku
Ketika aku ingin belajar sesuatu
Kau ada di sampingku
Mengajariku
Ketika aku ketakutan seorang diri
Kau ada di sampingku
Menemaniku
Aku selalu merasa iri padamu
Karena kau lebih hebat dariku
Dan aku selalu ingin melampauimu
Kau selalu berusaha untuk memenuhi keinginanku
Mengajariku berlatih menjadi seorang ninja
Aku rindu ketika kau tak bisa mengajariku ketika aku memintamu
Kau mengetuk keningku dengan kedua jarimu
Dan mengatakan “Maaf Sasuke,lain waktu saja.”
Aku juga rindu ketika aku terjatuh dan menangis
Kau menggendongku dan menghiburku
Aku rindu kehangatan gendongan itu
Kau pernah bilang,
“Kau dan aku adalah saudara yang unik, Sasuke. Aku ada sebagai rintangan terakhir yang harus kau kalahkan.”
Lalu kau tersenyum dan berkata lagi,
“Meski kau datang untuk membenciku karena hal itu, seperti itulah menjadi seorang kakak.”
ternyata kau…
Kau sangat menyayangiku
Kau berbohong padaku
Kau melakukan kejahatan sehingga kau tak akan pernah termaafkan
Lalu meninggalkan Konoha
Dan kau bergabung dengan Akatsuki
Untuk melindungi Konoha dari dalam
Kau tak pernah menghilangkan rasa cintamu pada Konoha ataupun aku
Kau lebih mementingkan keselamatanku
Dan aku masih hidup sampai sekarang
Kau membunuh temanmu, atasanmu, kekasihmu
Bahkan ayah dan ibumu
Tetapi kau tidak membunuhku
Kau menangis dengan air mata darah
Membunuh emosimu
Membantai sanak keluargamu
Tetapi kau tak sanggup untuk membunuhku
Dan sekarang aku mengerti
Bagimu, aku lebih penting dari Konoha
Dari awal sampai kematianmu
Kau mencoba memberiku kekuatan lebih
Kau membiarkanku mengalahkanmu
Membuatku menjadi pahlawan di mata Konoha
Kau yang telah tersiksa karena penyakit
Mencoba segala macam cara agar tetap bertahan hidup
Semua demi aku
Agar kau dapat bertarung denganku
Dan mati di kakiku
Melindungi kedamaian Konoha
Dan melindungiku…
Kau hidup sebagai buronan, pengkhianat dan penjahat
Dan memohon untuk melepas kematian
Kau telah berkorban segalanya untukku
Kau menukar harga dirimu dengan kehinaan
Dan kau mengganti rasa sayangku dengan kebencian
Bahkan meski demikian, kau mati dengan senyuman di wajahmu
Aku teringat ketika kau telah mendekati kematianmu
Kau mendekat padaku
Kau mengetuk keningku lagi
Tersenyum, dan mengatakan “Maaf Sasuke,ini untuk yang terakhirkali.”
Dan kau tersungkur di kakiku
Kau meninggalkan nama Uchiha padaku
Dan berbohong sampai matimu
Kakak…
Maafkan aku
Aku akan membalas ini semua
Membalas semua pengorbananmu
Aku akan menghancurkan Konoha
Konoha yang telah menjadikanmu alat
Sehingga kau tersiksa
Kakak…
Sekali lagi maafkan aku
Aku sangat menyayangimu
Aku merindukanmu, kak…
Kau…
...Seseorang yang sangat aku dendami
Dan kau…
Seseorang yang telah merusak hidupku
Kau yang membunuh orang tuaku
Kau yang membunuh klanku
Dan kau juga yang telah membunuh batinku
Tak taukah kau bagaimana sakitnya perasaanku
Saat aku melihat keluargaku mati di depanku
Keluarga yang sangat aku sayangi
Keluarga yang menjadi teman hidupku
Dan ternyata… kau… saudara sedarahku
Kau lah penyebab itu semua
Kau yang telah melakukan itu
Rasa sayangku yang sangat padamu selama ini…
Kau rusak dengan perbuatanmu
Kau buat aku benci padamu
Kau buat aku ingin membunuh saudara sedarahku sendiri
Karenamu aku kehilangan sifat ceriaku
Karenamu aku terhasut oleh kebencianku
Karenamu aku terbawa ke kegelapan hatiku
Karenamu aku meninggalkan teman-temanku dan desaku
Demi mencari kekuatan baru untuk membunuhmu
Ketika aku bertemu denganmu lagi
Perasaan dendamku membara
Tetapi kau hanya bisa tersenyum tanpa rasa bersalah
Mengabaikan perasaan sakitku
Apa yang ada di pikiranmu?
Kau sama sekali tak memikirkan betapa hancurnya hidupku karenamu?
Dan sekarang, setelah aku berhasil membunuhmu
Aku baru mengetahui apa yang sebenarnya
Aku menyesal
Dulu…
Ketika aku dan kau selalu bersama
Ketika aku bermimpi buruk
Kau ada di sampingku
Menenangkan hatiku
Ketika aku ingin belajar sesuatu
Kau ada di sampingku
Mengajariku
Ketika aku ketakutan seorang diri
Kau ada di sampingku
Menemaniku
Aku selalu merasa iri padamu
Karena kau lebih hebat dariku
Dan aku selalu ingin melampauimu
Kau selalu berusaha untuk memenuhi keinginanku
Mengajariku berlatih menjadi seorang ninja
Aku rindu ketika kau tak bisa mengajariku ketika aku memintamu
Kau mengetuk keningku dengan kedua jarimu
Dan mengatakan “Maaf Sasuke,lain waktu saja.”
Aku juga rindu ketika aku terjatuh dan menangis
Kau menggendongku dan menghiburku
Aku rindu kehangatan gendongan itu
Kau pernah bilang,
“Kau dan aku adalah saudara yang unik, Sasuke. Aku ada sebagai rintangan terakhir yang harus kau kalahkan.”
Lalu kau tersenyum dan berkata lagi,
“Meski kau datang untuk membenciku karena hal itu, seperti itulah menjadi seorang kakak.”
ternyata kau…
Kau sangat menyayangiku
Kau berbohong padaku
Kau melakukan kejahatan sehingga kau tak akan pernah termaafkan
Lalu meninggalkan Konoha
Dan kau bergabung dengan Akatsuki
Untuk melindungi Konoha dari dalam
Kau tak pernah menghilangkan rasa cintamu pada Konoha ataupun aku
Kau lebih mementingkan keselamatanku
Dan aku masih hidup sampai sekarang
Kau membunuh temanmu, atasanmu, kekasihmu
Bahkan ayah dan ibumu
Tetapi kau tidak membunuhku
Kau menangis dengan air mata darah
Membunuh emosimu
Membantai sanak keluargamu
Tetapi kau tak sanggup untuk membunuhku
Dan sekarang aku mengerti
Bagimu, aku lebih penting dari Konoha
Dari awal sampai kematianmu
Kau mencoba memberiku kekuatan lebih
Kau membiarkanku mengalahkanmu
Membuatku menjadi pahlawan di mata Konoha
Kau yang telah tersiksa karena penyakit
Mencoba segala macam cara agar tetap bertahan hidup
Semua demi aku
Agar kau dapat bertarung denganku
Dan mati di kakiku
Melindungi kedamaian Konoha
Dan melindungiku…
Kau hidup sebagai buronan, pengkhianat dan penjahat
Dan memohon untuk melepas kematian
Kau telah berkorban segalanya untukku
Kau menukar harga dirimu dengan kehinaan
Dan kau mengganti rasa sayangku dengan kebencian
Bahkan meski demikian, kau mati dengan senyuman di wajahmu
Aku teringat ketika kau telah mendekati kematianmu
Kau mendekat padaku
Kau mengetuk keningku lagi
Tersenyum, dan mengatakan “Maaf Sasuke,ini untuk yang terakhirkali.”
Dan kau tersungkur di kakiku
Kau meninggalkan nama Uchiha padaku
Dan berbohong sampai matimu
Kakak…
Maafkan aku
Aku akan membalas ini semua
Membalas semua pengorbananmu
Aku akan menghancurkan Konoha
Konoha yang telah menjadikanmu alat
Sehingga kau tersiksa
Kakak…
Sekali lagi maafkan aku
Aku sangat menyayangimu
Aku merindukanmu, kak…
Jumat, 17 Desember 2010
Orang yang menyulitkan = berkah yang tak terhingga
Orang yang menyulitkan =
Berkah Tak terhingga
Sebuah rahasia terungkap dari salah seorang tersabar di jagat ini,
dengan ketenangan yang membungkus wajahnya, dia membeberkan
rahasia bersabar dengan memberikan pengandaian, "Jika engkau
mengenal dekat seseorang dan engkau tahu dengan sangat jelas bahwa
dia mempunyai penyakit yang cukup parah menggerogoti dirinya. Untuk mengatasi penyakitnya, para dokter menyuntikkan bgtu banyak obat dan hormon yang mengakibatkan emosi’a terganggu, sehingga emosi’a tdk terkendali, tiba-tiba dia bias menjadi sedih,gelisah atau meledak amarahnya.”
Setelah menarik napas, dia melanjutkan dengan sebuah pertanyaaan, “Apakah engkau akan kesal ketika dia marah kepadamu?” Semua yang hadir menjawab “tidak”. Kenapa? Karena kita benar-benar memahami kondisi yang dialami orang tersebut. Malah ,lebih dari sekedar kasihan,melainkan empati.Pengertian dan pemahaman inilah salah satu kunci rahasia mengahadapi orang-orang yang kita cap “orang yang menyulitkan”
Orang yang menyulitkan sebenernya bukanlah orang yang membuat kita sulit. Ada sesuata dan banyak yang bias kita raih karena kehadirannya. Jadi ubahlah pemaknaan kita kata “orang yang menyulitkan”, dari orang yang menyulitkan menjadi orang yang sulit dimengerti.
Ketika pemaknaan diubah menjadi orang yang sulit dimengerti. Kita tidak lagi menyalahkan meraka, namun kita merasa perlu untuk menambah pengertian dalam diri sendiri,sehingga kita dapat memahami mereka .Kebanyakan dari kita tidak mengetahui latar belakang kehidupan orang2 ini.
Apa pun yang dilakukan seseorang saat ini, besar-kecilnya pasti ada pengaruh dari pengalaman masa lampaunya, pastilah ada sebab dibaliknya.Penyebabinilah yang sebaiknya kita sadari.
Tanpa kesadaran ini, kita akan masuk dalam kondisi yang reaktif, dimana tindakan kita hanyalah sebuah spontanitas dari mekanisme menyerang atau menjauh (fight or flight) yang telah ada di bagian primif pikiran bawah sadar kita. Menyadari hal ini juga membuat kita memberi ruang antara orang tsb dgn perilakunya.
Seperti sebuah kalimat pencerahan yang berbunyi “Define the problem as a person and you are in trouble, define the problem as a difficult behavior, you can do something about it”
Selainitu,untuk meningkatkan pengertian dan pemahaman saya ketika berhadapan dengan orang yang susah dimengerti, biasanya saya mengulang sebuah kalimat yang berbunyi: “Walaupun tidak nyaman bertemu orang yang menyulitkan, ini jauh lebih enak daripada menjadi orang yang menyulitkan itu.” Menyadari betul keadaan “ orang yang menyulitkan “ selain membawa kita ke sebuah pemahaman lebih baik tentang bagaimana prilaku sseorg terbentuk jga akn menjdikan kita bersyukur.
Melihat dari Mata yang Lain
Ketika melihat dengan mata penuh cinta,kita diminta jg utk melihat dri mata seorang guru, sprti guru2 di sekalah dasar (SD). Sewaktu baru masuk SD, tambah-tambahan , menulis dan mengeja ABC serta hal lain yg kita lakukan pasti jauh dari kemampuan kita skrg. Namun guru mengerti memahami dan jg mncintai kita, dgn sabar guru2 membimbing ,krn mrk tau bahwa muridnya bkn tdk bias tpi msh dlm proses pertumbuhan
Mata lain yang lain yg sangat ampuh digunakan mata yg berlawanan dgn mata yg tlh disbtkn tadi.Sekarang kita memosisikan diri kita sbgai murid,orang yang dianggap menyebalkan adalah guru kita.Dengan mata ini kita dapat melihat mereka muncul utk mengajarkan kita bersabar, orang yg cerewet dan mulutnya tajam hadir utk memberi tau ucara dan berkata-kata yg baik.
Anehnya , kita tidak pernah berterima kasih kepada mereka. Padahal mereka mau berkorban demi kita.Mereka mau menanggung dosa dari perbuatan yg dilakukan utk membuat kita mnjdi org yg lbh baik.Bukankah ini sesuatu yg luar biasa?
Apa yang kita tidak suka di orang lain ada dalm diri kita
Seandainya Anda benar benar tdk suka dgn orang yg suka memotong pembicaran org lain , spontan emosi Anda lgsg terbangun . Maka bisa diblg sifat itu sebenarnya juga ada dlm diri anda sendiri. Setelah menyadari semua ini bertemu dgn org org yg menyulitkan , yg menyakiti hati atau sosok yg menyebalkan yg dulu kita hindari , kini telah berbalik menjadi kesempatan indah utk menyadari sisi lain yg tersembunyi dlm diri ini. Mereka bgtu berjasa dgn merelakan dirinya menjadi cermin utk melihat apa yg kita tidak suka dalam raga ini. Yang terpenting bukan yang terang , melainkan merangkulnya
dengan penerimaan yg iklas . Ketika ini terjadi hidip menjelma menjadi sebuah berkah yang tak terhingga.
dengan penerimaan yg iklas . Ketika ini terjadi hidip menjelma menjadi sebuah berkah yang tak terhingga.
Kamis, 09 Desember 2010
kesabaran selalu menghasilkan sesuatu yang indah
Di suatu sore, Seorang Anak datang kepada Ayahnya yang sedang membaca koran.
“Ayah, ayah” kata Sang Anak
“Ada apa?” tanya Sang Ayah
“Aku capek, sangat capek. Aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek, aku mau menyontek saja! aku capek, sangat capek.
Aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! Aku capek, sangat capek.
Aku capek karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung, aku ingin jajan terus!
Aku capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati.
Aku capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman-temanku, sedangkan teman-temanku seenaknya saja bersikap kepada ku.
Aku capek Ayah, aku capek menahan diri. Aku ingin seperti mereka. Mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! ..” sang anak mulai menangis.
Kemudian sang Ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ”Anakku ayo ikut Ayah, Ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak. Kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang. Lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” sang ayah hanya diam.
Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu-kupu, bunga-bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang.
“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!” sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.
“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.
” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? Padahal tempat ini begitu indah…”
” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”
” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tahu ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu”
” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya Yah? Alhamdulillah”
” Nah, akhirnya kau mengerti”
” Mengerti apa? aku tidak mengerti”
” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi.
Bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga, dan akhirnya semuanya terbayar kan? Ada telaga yang sangat indah. Seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? Kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”
” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”
” Ayah tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat. Begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu. Tapi, ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri. Maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri,, seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya. Maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang. Maka kau tau akhirnya kan?”
” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini. Sekarang aku mengerti. Terima kasih ayah , aku akan tegar saat yang lain terlempar ”
Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.
“Ayah, ayah” kata Sang Anak
“Ada apa?” tanya Sang Ayah
“Aku capek, sangat capek. Aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek, aku mau menyontek saja! aku capek, sangat capek.
Aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! Aku capek, sangat capek.
Aku capek karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung, aku ingin jajan terus!
Aku capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati.
Aku capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman-temanku, sedangkan teman-temanku seenaknya saja bersikap kepada ku.
Aku capek Ayah, aku capek menahan diri. Aku ingin seperti mereka. Mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! ..” sang anak mulai menangis.
Kemudian sang Ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ”Anakku ayo ikut Ayah, Ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak. Kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang. Lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” sang ayah hanya diam.
Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu-kupu, bunga-bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang.
“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!” sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.
“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.
” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? Padahal tempat ini begitu indah…”
” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”
” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tahu ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu”
” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya Yah? Alhamdulillah”
” Nah, akhirnya kau mengerti”
” Mengerti apa? aku tidak mengerti”
” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi.
Bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga, dan akhirnya semuanya terbayar kan? Ada telaga yang sangat indah. Seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? Kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”
” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”
” Ayah tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat. Begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu. Tapi, ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri. Maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri,, seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya. Maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang. Maka kau tau akhirnya kan?”
” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini. Sekarang aku mengerti. Terima kasih ayah , aku akan tegar saat yang lain terlempar ”
Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.
Minggu, 21 November 2010
dony dan impiannya
Dony dan Impiannya
Lorong panti. Senyap. Dinding putih dan bangku panjang. Sunyi. Begitulah saat saya pertama kali bertemu dengan Donny.
“Beli kartunya dong Kak,” pintanya saat itu. Donny, tampak menarik tangan saya dan memamerkan beberapa kartu ucapan di tangannya. Ada 5 buah, kartu-kartu mungil yang dibungkus plastik transparan. Ada sebuah kartu yang sederhana, dengan hanya satu gambar bunga di depannya. Telihat garis-garis sejajar, mungkin melambangkan tanah. Kelopak-kelopaknya tampak merekah, dengan tangkai yang sangat panjang. Dia bilang, kartu-kartu itu adalah buatannya sendiri. Saya ambil satu, dan dia pun tersenyum.
Donny, adalah sama dengan remaja lainnya. Dia suka mendengarkan musik, main basket, dan tentu saja, menyukai remaja lawan jenisnya. Namun, yang membedakannya mungkin hanya karena dia adalah penderita Down Syndrome, ditambah dengan gangguan Cerebral Palsy. Tangannya, sering bergerak tak menentu. Bicaranya tak jelas, disertai dengan lonjakan-lonjakan kepala yang intens.
Kartu mungil itulah yang menjadi awal kami berbicara. Saya mulai bertanya kabarnya, dan dia menjawab baik-baik saja. Tangannya mulai bergerak spastis. Kursi roda yang didudukinya bergeser. Tak lama kemudian, mulailah ia bercerita tentang apa yang dirasakannya. Ia ingin sekali punya seperangkat alat musik. Ia ingin punya gitar, dan piano agar dapat bernyanyi setiap hari.
Setiap minggu, dikunjunginya gereja di depan panti, dan ditawarkannya kartu buatannya itu kepada para jemaat. Sebagai seorang Nasrani, Donny juga kerap menyumbangkan suaranya disana. Dia lalu juga bercerita bahwa dia sudah mengumpulkan uang sebanyak 500 ribu, hasil dari kartu-kartu buatannya. Dengan uang itu, ia berniat untuk membeli piano. Ah, dia tampak bersemangat sekali.
Larik-larik cahaya sore yang menembus jendela yang terbuka setengah. Cahaya itu menimpa tubuhnya, dan ah, kini ia tampak bersinar. Tangannya kembali bergerak tak menentu, dan kepalanya masih melonjak-lonjak. Dia menjadi teman yang menyenangkan sore itu. Kami juga bercanda, dan saling bertepuk tangan. Kami membuat suara-suara aneh, hingga membuat kami sendiri tergelak tertawa. Padahal cuma ada kami berdua yang ada di koridor panjang itu.
Lorong panti. Senyap. Dinding putih dan bangku panjang. Sunyi. Begitu pula saat saya meninggalkan Donny bersama dengan beragam pemikiran (dan pelajaran tentang ketegaran yang diberikannya).
***
Saya kagum dengannya. Walaupun tak sempurna, tak kurang semangatnya untuk menjalani hidup. Kita mungkin paham, dengan uang 500 ribu, gitar dan piano macam apa yang akan didapatkannya. Mungkin tak satupun. Tapi itulah kita. Dan kita bukan Donny. Uang itu berarti segalanya buat dia.
Kita mungkin akan berkata kepadanya, “sudahlah Donny, kamu tak akan bisa menjadi pemusik dengan keadaan seperti ini” Kata-kata itu mungkin yang akan terlintas di benak kita. Tapi itulah kita. Dan kita bukan Donny. Kata-kata itu seringkali tak berarti baginya.
Teman, kita mungkin sering pesimis dalam hidup ini. Walaupun dengan keadaan yang sangat jauh berbeda dengan Donny, kita kerap tak bersemangat dalam hidup. Bisa jadi, tak ada bara-bara api semangat yang membakar dalam dada. Bisa jadi, tak ada derap-derap langkah yang menghentak menuju kemenangan.
Namun, maukah kita menjadi orang-orang yang pesimis? Maukah kita menjadi orang-orang yang menyerah, terkapar di tengah perjalanan hidup ini? Jangan. Jangan biarkan bara-bara itu redup dalam hatimu. Jangan biarkan derap-derap itu melunak dalam jiwamu. Sediakan selalu percik-percik api walau sedikit untuk menyalakan semangat itu. Sebab percik api, akan selalu menjadi benih bara api yang berkobar-kobar. Jejakkan kakimu kuat-kuat agar tak goyah jalanmu. Sebab, kaki yang menjejak dalam, akan membuat kita tegap dalam melangkah.
Tataplah kedepan. Pandanglah dengan sorot mata kemenangan. Dengarkan alunan gemuruh irama dalam jiwamu. Biarkan simfoni itu yang mengisi kalbumu. Semoga Allah selalu bersamamu.
Di ceritakan oleh Irfan
Sumber: www.resensi.net
Lorong panti. Senyap. Dinding putih dan bangku panjang. Sunyi. Begitulah saat saya pertama kali bertemu dengan Donny.
“Beli kartunya dong Kak,” pintanya saat itu. Donny, tampak menarik tangan saya dan memamerkan beberapa kartu ucapan di tangannya. Ada 5 buah, kartu-kartu mungil yang dibungkus plastik transparan. Ada sebuah kartu yang sederhana, dengan hanya satu gambar bunga di depannya. Telihat garis-garis sejajar, mungkin melambangkan tanah. Kelopak-kelopaknya tampak merekah, dengan tangkai yang sangat panjang. Dia bilang, kartu-kartu itu adalah buatannya sendiri. Saya ambil satu, dan dia pun tersenyum.
Donny, adalah sama dengan remaja lainnya. Dia suka mendengarkan musik, main basket, dan tentu saja, menyukai remaja lawan jenisnya. Namun, yang membedakannya mungkin hanya karena dia adalah penderita Down Syndrome, ditambah dengan gangguan Cerebral Palsy. Tangannya, sering bergerak tak menentu. Bicaranya tak jelas, disertai dengan lonjakan-lonjakan kepala yang intens.
Kartu mungil itulah yang menjadi awal kami berbicara. Saya mulai bertanya kabarnya, dan dia menjawab baik-baik saja. Tangannya mulai bergerak spastis. Kursi roda yang didudukinya bergeser. Tak lama kemudian, mulailah ia bercerita tentang apa yang dirasakannya. Ia ingin sekali punya seperangkat alat musik. Ia ingin punya gitar, dan piano agar dapat bernyanyi setiap hari.
Setiap minggu, dikunjunginya gereja di depan panti, dan ditawarkannya kartu buatannya itu kepada para jemaat. Sebagai seorang Nasrani, Donny juga kerap menyumbangkan suaranya disana. Dia lalu juga bercerita bahwa dia sudah mengumpulkan uang sebanyak 500 ribu, hasil dari kartu-kartu buatannya. Dengan uang itu, ia berniat untuk membeli piano. Ah, dia tampak bersemangat sekali.
Larik-larik cahaya sore yang menembus jendela yang terbuka setengah. Cahaya itu menimpa tubuhnya, dan ah, kini ia tampak bersinar. Tangannya kembali bergerak tak menentu, dan kepalanya masih melonjak-lonjak. Dia menjadi teman yang menyenangkan sore itu. Kami juga bercanda, dan saling bertepuk tangan. Kami membuat suara-suara aneh, hingga membuat kami sendiri tergelak tertawa. Padahal cuma ada kami berdua yang ada di koridor panjang itu.
Lorong panti. Senyap. Dinding putih dan bangku panjang. Sunyi. Begitu pula saat saya meninggalkan Donny bersama dengan beragam pemikiran (dan pelajaran tentang ketegaran yang diberikannya).
***
Saya kagum dengannya. Walaupun tak sempurna, tak kurang semangatnya untuk menjalani hidup. Kita mungkin paham, dengan uang 500 ribu, gitar dan piano macam apa yang akan didapatkannya. Mungkin tak satupun. Tapi itulah kita. Dan kita bukan Donny. Uang itu berarti segalanya buat dia.
Kita mungkin akan berkata kepadanya, “sudahlah Donny, kamu tak akan bisa menjadi pemusik dengan keadaan seperti ini” Kata-kata itu mungkin yang akan terlintas di benak kita. Tapi itulah kita. Dan kita bukan Donny. Kata-kata itu seringkali tak berarti baginya.
Teman, kita mungkin sering pesimis dalam hidup ini. Walaupun dengan keadaan yang sangat jauh berbeda dengan Donny, kita kerap tak bersemangat dalam hidup. Bisa jadi, tak ada bara-bara api semangat yang membakar dalam dada. Bisa jadi, tak ada derap-derap langkah yang menghentak menuju kemenangan.
Namun, maukah kita menjadi orang-orang yang pesimis? Maukah kita menjadi orang-orang yang menyerah, terkapar di tengah perjalanan hidup ini? Jangan. Jangan biarkan bara-bara itu redup dalam hatimu. Jangan biarkan derap-derap itu melunak dalam jiwamu. Sediakan selalu percik-percik api walau sedikit untuk menyalakan semangat itu. Sebab percik api, akan selalu menjadi benih bara api yang berkobar-kobar. Jejakkan kakimu kuat-kuat agar tak goyah jalanmu. Sebab, kaki yang menjejak dalam, akan membuat kita tegap dalam melangkah.
Tataplah kedepan. Pandanglah dengan sorot mata kemenangan. Dengarkan alunan gemuruh irama dalam jiwamu. Biarkan simfoni itu yang mengisi kalbumu. Semoga Allah selalu bersamamu.
Di ceritakan oleh Irfan
Sumber: www.resensi.net
Selasa, 12 Oktober 2010
hachiko
Hachiko (Cerita Manis Dari Jepang)
Hachiko adalah seekor anjing yang lahir di sekitar bulan November 1923 di Odate, Jepang. Ia pindah ke Tokyo, saat majikannya pindah ke sana. Pemilik anjing itu bernama Eisaburo Ueno. Eisaburo adalah seorang tua yang tinggal sendirian di rumahnya, istrinya sudah meninggal dan anak-anaknya sudah menikah dan tidak tinggal di situ lagi. Eisaburo Ueno bekerja di sebuah universitas di dekat Tokyo sebagai seorang profesor.
Sudah sebuah kebiasaan bagi orang tua itu untuk menaiki kereta listrik di Stasiun Shibuya untuk bekerja. Ia berangkat sekitar jam 8 pagi, dan biasanya ia pulang dan tiba di stasiun itu kembali sekitar jam 5 sore.
Hachiko, si Anjing itu, sangat setia menemani tuannya. Setiap pagi ia berjalan bersama tuannya menuju ke Stasiun Shibuya. Setelah ‘melepas kepergian’ tuannya, anjing itu pulang sendiri ke rumah. Dan uniknya tepat sebelum jam 5 sore, anjing itu sudah datang kembali ke stasiun untuk menjemput tuannya.
Kebiasaan ini dilakukannya setiap hari selama beberapa tahun, dan orang-orang di sekitar situ sudah mulai hapal dengan tingkah anjing (dan pemiliknya) itu. Para petugas stasiun pun selalu tersenyum ramah saat melihat anjing itu berlari-lari kecil menjemput tuannya setiap sore.
Tapi malang, pada suatu siang, Eisaburo mendapatkan serangan jantung di universitas tempatnya bekerja. Ia meninggal sebelum mendapatkan perawatan medis dari rumah sakit. Segenap keluarganya langsung dihubungi oleh pihak universitas untuk menjemput jenazah Eisaburo.
Lalu bagaimana dengan anjing itu ? Ternyata, pada sore harinya anjing itu tetap datang ke stasiun untuk menjemput tuannya, tapi hingga larut malam ia menunggu, ternyata tuannya tidak datang. Anjing itu pulang kembali ke rumah.
Besok sorenya, anjing itu kembali datang ke Stasiun - dan sekali lagi - ia pulang dengan ‘tangan hampa’. Kebiasaan ini ia lakukan setiap hari. Para petugas stasiun dan orang-orang di situ sangat bersimpati dan kadangkala memberinya makan saat ‘menjemput tuannya’.
Beberapa kerabat Eisaburo pun sebenarnya sudah berusaha untuk memelihara dan merawat anjing itu, tetapi tetap saja - setiap sore anjing itu nekat berlari menuju ke stasiun Shibuya.
Tak terasa 11 tahun sudah berlalu, dan anjing itu tetap melakukan aktivitas hariannya menunggu tuannya di stasiun tiap sore - hingga larut malam, bahkan kadang baru pulang besok paginya setelah pulas tertidur di stasiun.
Setelah berumur 15 tahun, anjing itu akhirnya meninggal dunia dalam kesetiaannya, tepat di tempat dimana ia biasa menunggu tuannya.
Untuk memuji dan menghargai kesetiaan anjing itu, orang-orang membangun sebuah patung Hachiko di Stasiun Shibuya. Patung anjing itu masih berdiri kokoh hingga saat ini, sebagai sebuah inspirasi kesetiaan bagi orang-orang yang melewatinya.
Hachiko adalah seekor anjing yang lahir di sekitar bulan November 1923 di Odate, Jepang. Ia pindah ke Tokyo, saat majikannya pindah ke sana. Pemilik anjing itu bernama Eisaburo Ueno. Eisaburo adalah seorang tua yang tinggal sendirian di rumahnya, istrinya sudah meninggal dan anak-anaknya sudah menikah dan tidak tinggal di situ lagi. Eisaburo Ueno bekerja di sebuah universitas di dekat Tokyo sebagai seorang profesor.
Sudah sebuah kebiasaan bagi orang tua itu untuk menaiki kereta listrik di Stasiun Shibuya untuk bekerja. Ia berangkat sekitar jam 8 pagi, dan biasanya ia pulang dan tiba di stasiun itu kembali sekitar jam 5 sore.
Hachiko, si Anjing itu, sangat setia menemani tuannya. Setiap pagi ia berjalan bersama tuannya menuju ke Stasiun Shibuya. Setelah ‘melepas kepergian’ tuannya, anjing itu pulang sendiri ke rumah. Dan uniknya tepat sebelum jam 5 sore, anjing itu sudah datang kembali ke stasiun untuk menjemput tuannya.
Kebiasaan ini dilakukannya setiap hari selama beberapa tahun, dan orang-orang di sekitar situ sudah mulai hapal dengan tingkah anjing (dan pemiliknya) itu. Para petugas stasiun pun selalu tersenyum ramah saat melihat anjing itu berlari-lari kecil menjemput tuannya setiap sore.
Tapi malang, pada suatu siang, Eisaburo mendapatkan serangan jantung di universitas tempatnya bekerja. Ia meninggal sebelum mendapatkan perawatan medis dari rumah sakit. Segenap keluarganya langsung dihubungi oleh pihak universitas untuk menjemput jenazah Eisaburo.
Lalu bagaimana dengan anjing itu ? Ternyata, pada sore harinya anjing itu tetap datang ke stasiun untuk menjemput tuannya, tapi hingga larut malam ia menunggu, ternyata tuannya tidak datang. Anjing itu pulang kembali ke rumah.
Besok sorenya, anjing itu kembali datang ke Stasiun - dan sekali lagi - ia pulang dengan ‘tangan hampa’. Kebiasaan ini ia lakukan setiap hari. Para petugas stasiun dan orang-orang di situ sangat bersimpati dan kadangkala memberinya makan saat ‘menjemput tuannya’.
Beberapa kerabat Eisaburo pun sebenarnya sudah berusaha untuk memelihara dan merawat anjing itu, tetapi tetap saja - setiap sore anjing itu nekat berlari menuju ke stasiun Shibuya.
Tak terasa 11 tahun sudah berlalu, dan anjing itu tetap melakukan aktivitas hariannya menunggu tuannya di stasiun tiap sore - hingga larut malam, bahkan kadang baru pulang besok paginya setelah pulas tertidur di stasiun.
Setelah berumur 15 tahun, anjing itu akhirnya meninggal dunia dalam kesetiaannya, tepat di tempat dimana ia biasa menunggu tuannya.
Untuk memuji dan menghargai kesetiaan anjing itu, orang-orang membangun sebuah patung Hachiko di Stasiun Shibuya. Patung anjing itu masih berdiri kokoh hingga saat ini, sebagai sebuah inspirasi kesetiaan bagi orang-orang yang melewatinya.
Minggu, 10 Oktober 2010
Anak seorang Tukang batu
Anak Seorang Tukang Batu
Alkisah, sebuah keluarga sederhana memiliki seorang putri yang menginjak remaja. Sang ayah bekerja sebagai tukang batu di sebuah perusahaan kontraktor besar di kota itu. Sayang, sang putri merasa malu dengan ayahnya. Jika ada yang bertanya tentang pekerjaan ayahnya, dia selalu menghindar dengan memberi jawaban yang tidak jujur. "Oh, ayahku bekerja sebagai petinggi di perusahaan kontraktor," katanya, tanpa pernah menjawab bekerja sebagai apa.
Si putri lebih senang menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Ia sering berpura-pura menjadi anak dari seorang ayah yang bukan bekerja sebagai tukang batu. Melihat dan mendengar ulah anak semata wayangnya, sang ayah bersedih. Perkataan dan perbuatan anaknya yang tidak jujur dan mengingkari keadaan yang sebenarnya telah melukai hatinya.
Hubungan di antara mereka jadi tidak harmonis. Si putri lebih banyak menghindar jika bertemu dengan ayahnya. Ia lebih memilih mengurung diri di kamarnya yang kecil dan sibuk menyesali keadaan. "Sungguh Tuhan tidak adil kepadaku, memberiku ayah seorang tukang batu," keluhnya dalam hati.
Melihat kelakuan putrinya, sang ayah memutuskan untuk melakukan sesuatu. Maka, suatu hari, si ayah mengajak putrinya berjalan berdua ke sebuah taman, tak jauh dari rumah mereka. Dengan setengah terpaksa, si putri mengikuti kehendak ayahnya.
Setelah sampai di taman, dengan raut penuhsenyuman, si ayah berkata, "Anakku, ayah selama ini menghidupi dan membiayai sekolahmu dengan bekerja sebagai tukang batu. Walaupun hanya sebagai tukang batu, tetapi ayah adalah tukang batu yang baik, jujur, disiplin, dan jarang melakukan kesalahan. Ayah ingin menunjukkan sesuatu kepadamu, lihatlah gedung bersejarah yang ada di sana. Gedung itu bisa berdiri dengan megah dan indah karena ayah salah satu orang yang ikut membangun. Memang, nama ayah tidak tercatat di sana, tetapi keringat ayah ada di sana. Juga, berbagai bangunan indah lain di kota ini di mana ayah menjadi bagian tak terpisahkan dari gedung-gedung tersebut. Ayah bangga dan bersyukur bisa bekerja dengan baik hingga hari ini."
Mendengar penuturan sang ayah, si putri terpana. Ia terdiam tak bisa berkata apa-apa. Sang ayah pun melanjutkan penuturannya, "Anakku, ayah juga ingin engkau merasakan kebanggaan yang sama dengan ayahmu. Sebab, tak peduli apa pun pekerjaan yang kita kerjakan, bila disertai dengan kejujuran, perasaan cinta dan tahu untuk apa itu semua, maka sepantasnya kita mensyukuri nikmat itu."
Setelah mendengar semua penuturan sang ayah,si putri segera memeluk ayahnya. Sambil terisak, ia berkata, "Maafkan putri,Yah. Putri salah selama ini. Walaupun tukang batu, tetapi ternyata Ayah adalahseorang pekerja yang hebat. Putri bangga pada Ayah." Mereka pun berpelukan dalam suasana penuh keharuan.
Pembaca yang budiman,
Begitu banyak orang yang tidak bisa menerima keadaan dirinya sendiri apa adanya. Entah itu masalah pekerjaaan, gelar,materi, kedudukan, dan lain sebagainya. Mereka merasa malu dan rendah diri atas apa yang ada, sehingga selalu berusaha menutupi dengan identitas dan keadaan yang dipalsukan.
Tetapi, justru karena itulah, bukan kebahagiaan yang dinikmati. Namun, setiap hari mereka hidup dalam keadaan waswas, demi menutupi semua kepalsuan. Tentu, pola hidup seperti itu sangat melelahkan.
Maka, daripada hidup dalam kebahagiaaan yang semu, jauh lebih baik seperti tukang batu dalam kisah di atas. Walaupun hidup pas-pasan, ia memiliki kehormatan dan integritas sebagai manusia.
Sungguh, bisa menerima apa adanya kita hariini adalah kebijaksanaan. Dan, mau berusaha memulai dari apa adanya kita hari ini dengan kejujuran dan kerja keras adalah keberanian!
Salam Sukses Luar Biasa !!!
Andrie Wongso
[www.andriewongso.com]
Alkisah, sebuah keluarga sederhana memiliki seorang putri yang menginjak remaja. Sang ayah bekerja sebagai tukang batu di sebuah perusahaan kontraktor besar di kota itu. Sayang, sang putri merasa malu dengan ayahnya. Jika ada yang bertanya tentang pekerjaan ayahnya, dia selalu menghindar dengan memberi jawaban yang tidak jujur. "Oh, ayahku bekerja sebagai petinggi di perusahaan kontraktor," katanya, tanpa pernah menjawab bekerja sebagai apa.
Si putri lebih senang menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Ia sering berpura-pura menjadi anak dari seorang ayah yang bukan bekerja sebagai tukang batu. Melihat dan mendengar ulah anak semata wayangnya, sang ayah bersedih. Perkataan dan perbuatan anaknya yang tidak jujur dan mengingkari keadaan yang sebenarnya telah melukai hatinya.
Hubungan di antara mereka jadi tidak harmonis. Si putri lebih banyak menghindar jika bertemu dengan ayahnya. Ia lebih memilih mengurung diri di kamarnya yang kecil dan sibuk menyesali keadaan. "Sungguh Tuhan tidak adil kepadaku, memberiku ayah seorang tukang batu," keluhnya dalam hati.
Melihat kelakuan putrinya, sang ayah memutuskan untuk melakukan sesuatu. Maka, suatu hari, si ayah mengajak putrinya berjalan berdua ke sebuah taman, tak jauh dari rumah mereka. Dengan setengah terpaksa, si putri mengikuti kehendak ayahnya.
Setelah sampai di taman, dengan raut penuhsenyuman, si ayah berkata, "Anakku, ayah selama ini menghidupi dan membiayai sekolahmu dengan bekerja sebagai tukang batu. Walaupun hanya sebagai tukang batu, tetapi ayah adalah tukang batu yang baik, jujur, disiplin, dan jarang melakukan kesalahan. Ayah ingin menunjukkan sesuatu kepadamu, lihatlah gedung bersejarah yang ada di sana. Gedung itu bisa berdiri dengan megah dan indah karena ayah salah satu orang yang ikut membangun. Memang, nama ayah tidak tercatat di sana, tetapi keringat ayah ada di sana. Juga, berbagai bangunan indah lain di kota ini di mana ayah menjadi bagian tak terpisahkan dari gedung-gedung tersebut. Ayah bangga dan bersyukur bisa bekerja dengan baik hingga hari ini."
Mendengar penuturan sang ayah, si putri terpana. Ia terdiam tak bisa berkata apa-apa. Sang ayah pun melanjutkan penuturannya, "Anakku, ayah juga ingin engkau merasakan kebanggaan yang sama dengan ayahmu. Sebab, tak peduli apa pun pekerjaan yang kita kerjakan, bila disertai dengan kejujuran, perasaan cinta dan tahu untuk apa itu semua, maka sepantasnya kita mensyukuri nikmat itu."
Setelah mendengar semua penuturan sang ayah,si putri segera memeluk ayahnya. Sambil terisak, ia berkata, "Maafkan putri,Yah. Putri salah selama ini. Walaupun tukang batu, tetapi ternyata Ayah adalahseorang pekerja yang hebat. Putri bangga pada Ayah." Mereka pun berpelukan dalam suasana penuh keharuan.
Pembaca yang budiman,
Begitu banyak orang yang tidak bisa menerima keadaan dirinya sendiri apa adanya. Entah itu masalah pekerjaaan, gelar,materi, kedudukan, dan lain sebagainya. Mereka merasa malu dan rendah diri atas apa yang ada, sehingga selalu berusaha menutupi dengan identitas dan keadaan yang dipalsukan.
Tetapi, justru karena itulah, bukan kebahagiaan yang dinikmati. Namun, setiap hari mereka hidup dalam keadaan waswas, demi menutupi semua kepalsuan. Tentu, pola hidup seperti itu sangat melelahkan.
Maka, daripada hidup dalam kebahagiaaan yang semu, jauh lebih baik seperti tukang batu dalam kisah di atas. Walaupun hidup pas-pasan, ia memiliki kehormatan dan integritas sebagai manusia.
Sungguh, bisa menerima apa adanya kita hariini adalah kebijaksanaan. Dan, mau berusaha memulai dari apa adanya kita hari ini dengan kejujuran dan kerja keras adalah keberanian!
Salam Sukses Luar Biasa !!!
Andrie Wongso
[www.andriewongso.com]
Langganan:
Postingan (Atom)