Jumat, 17 Desember 2010

Orang yang menyulitkan = berkah yang tak terhingga

      Orang yang menyulitkan =
Berkah Tak terhingga
Sebuah rahasia terungkap dari salah seorang tersabar di jagat ini,
dengan ketenangan yang membungkus wajahnya, dia membeberkan
rahasia bersabar dengan memberikan pengandaian, "Jika engkau
mengenal dekat seseorang dan engkau tahu dengan sangat jelas bahwa
dia mempunyai penyakit yang cukup parah menggerogoti dirinya. Untuk mengatasi penyakitnya, para dokter menyuntikkan bgtu banyak obat dan hormon yang mengakibatkan emosi’a terganggu, sehingga emosi’a tdk terkendali, tiba-tiba dia bias menjadi sedih,gelisah atau meledak amarahnya.”
Setelah menarik napas, dia melanjutkan dengan sebuah pertanyaaan, “Apakah engkau akan kesal ketika dia marah kepadamu?” Semua yang hadir menjawab “tidak”. Kenapa? Karena kita benar-benar memahami kondisi yang dialami orang tersebut. Malah ,lebih dari sekedar kasihan,melainkan empati.Pengertian dan pemahaman inilah salah satu kunci rahasia mengahadapi orang-orang yang kita cap “orang yang menyulitkan”
Orang yang menyulitkan sebenernya bukanlah orang yang membuat kita sulit. Ada sesuata dan banyak yang bias kita raih karena kehadirannya. Jadi ubahlah pemaknaan kita kata “orang yang menyulitkan”, dari orang yang menyulitkan menjadi orang yang sulit dimengerti.
Ketika pemaknaan diubah menjadi orang yang sulit dimengerti. Kita tidak lagi menyalahkan meraka, namun kita merasa perlu untuk menambah pengertian dalam diri sendiri,sehingga kita dapat memahami mereka .Kebanyakan dari kita tidak mengetahui latar belakang kehidupan orang2 ini.
Apa pun yang dilakukan seseorang saat ini, besar-kecilnya pasti ada pengaruh dari pengalaman masa lampaunya, pastilah ada sebab dibaliknya.Penyebabinilah yang sebaiknya kita sadari.
Tanpa kesadaran ini, kita akan masuk dalam kondisi yang reaktif, dimana tindakan kita hanyalah sebuah spontanitas dari mekanisme menyerang atau menjauh (fight or flight) yang telah ada di bagian primif pikiran bawah sadar kita. Menyadari hal ini juga membuat kita memberi ruang antara orang tsb dgn perilakunya.
Seperti sebuah kalimat pencerahan yang berbunyi “Define the problem as a person and you are in trouble, define the problem as a difficult behavior, you can do something about it”
Selainitu,untuk meningkatkan pengertian dan pemahaman saya ketika berhadapan dengan orang yang susah dimengerti, biasanya saya mengulang sebuah kalimat yang berbunyi: “Walaupun tidak nyaman bertemu orang yang menyulitkan, ini jauh lebih enak daripada menjadi orang yang menyulitkan itu.” Menyadari betul keadaan “ orang yang menyulitkan “ selain membawa kita ke sebuah pemahaman lebih baik tentang bagaimana prilaku sseorg terbentuk jga akn menjdikan kita bersyukur.
Melihat dari Mata yang Lain
Ketika melihat dengan mata penuh cinta,kita diminta jg utk melihat dri mata seorang guru, sprti guru2 di sekalah dasar (SD). Sewaktu baru masuk SD, tambah-tambahan , menulis dan mengeja ABC serta hal lain yg kita lakukan pasti jauh dari kemampuan kita skrg. Namun guru mengerti memahami dan jg mncintai kita, dgn sabar guru2 membimbing ,krn mrk tau bahwa muridnya bkn tdk bias tpi msh dlm proses pertumbuhan
Mata lain yang lain yg sangat ampuh digunakan mata yg berlawanan dgn mata yg tlh disbtkn tadi.Sekarang kita memosisikan diri kita sbgai murid,orang yang dianggap menyebalkan adalah guru kita.Dengan mata ini kita dapat melihat mereka muncul utk mengajarkan kita bersabar, orang yg cerewet dan mulutnya tajam hadir utk memberi tau ucara dan berkata-kata yg baik.
Anehnya , kita tidak pernah berterima kasih kepada mereka. Padahal mereka mau berkorban demi kita.Mereka mau menanggung dosa dari perbuatan yg dilakukan utk membuat kita mnjdi org yg lbh baik.Bukankah ini sesuatu yg luar biasa?
Apa yang kita tidak suka di orang lain ada dalm diri kita
Seandainya Anda benar benar tdk suka dgn orang yg suka memotong pembicaran org lain , spontan emosi Anda lgsg terbangun . Maka bisa diblg sifat itu sebenarnya juga ada dlm diri anda sendiri. Setelah menyadari semua ini bertemu dgn org org yg menyulitkan , yg menyakiti hati atau sosok yg menyebalkan yg dulu kita hindari , kini telah berbalik menjadi kesempatan indah utk menyadari sisi lain yg tersembunyi dlm diri ini. Mereka bgtu berjasa dgn merelakan dirinya menjadi cermin utk melihat apa yg kita tidak suka dalam raga ini. Yang terpenting bukan yang terang , melainkan merangkulnya
 dengan penerimaan yg iklas . Ketika ini terjadi hidip menjelma menjadi sebuah berkah yang tak terhingga.

Kamis, 09 Desember 2010

kesabaran selalu menghasilkan sesuatu yang indah

Di suatu sore, Seorang Anak datang kepada Ayahnya yang sedang membaca koran. 

“Ayah, ayah” kata Sang Anak

“Ada apa?” tanya Sang Ayah

“Aku capek, sangat capek. Aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek, aku mau menyontek saja! aku capek, sangat capek.

Aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! Aku capek, sangat capek.

Aku capek karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung, aku ingin jajan terus!

Aku capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati.

Aku capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman-temanku, sedangkan teman-temanku seenaknya saja bersikap kepada ku.

Aku capek Ayah, aku capek menahan diri. Aku ingin seperti mereka. Mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! ..” sang anak mulai menangis.

Kemudian sang Ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ”Anakku ayo ikut Ayah, Ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak. Kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang. Lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” sang ayah hanya diam.

Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu-kupu, bunga-bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang.

“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!” sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.

“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.

” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? Padahal tempat ini begitu indah…”

” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”

” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tahu ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu”

” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya Yah? Alhamdulillah”

” Nah, akhirnya kau mengerti”

” Mengerti apa? aku tidak mengerti”

” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi.
Bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga, dan akhirnya semuanya terbayar kan? Ada telaga yang sangat indah. Seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? Kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”

” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”

” Ayah tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat. Begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu. Tapi, ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri. Maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri,, seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya. Maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang. Maka kau tau akhirnya kan?”

” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini. Sekarang aku mengerti. Terima kasih ayah , aku akan tegar saat yang lain terlempar ”

Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.